top of page

Yayasan Puge Figo Jalin Kerja Sama dengan BPTP NTT Kembangkan Taramba di Ngada & Nagekeo

Yayasan Puge Figo (YPF) yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup, kini bersinergis dengan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dalam pengembangan pakan ternak jenis leguminosa (legume) guna mendukung program Reboisasi lahan kritis berbasis pakan ternak.

Yayasan Puge Figo Jalin Kerja Sama dengan BPTP NTT Kembangkan Taramba di Ngada & Nagekeo

Terkait dengan hal itu BPTP NTT, memberi apresiasi dan dukungannya kepada Yayasan Puge Figo, yang telah meluncurkan program Reboisasi berbasis pakan ternak di Kabupaten Ngada. Salah satu bentuk dukungan melalui penyediaan benih pakan ternak jenis taramba, indigovera, dan clitoria.


Terobosan YPF melalui program reboisasi berbasis pakan ternak, khusus jenis leguminosa seperti taramba, dinilai sangat strategis di tengah keterbatasan pakan ternak yang bernutrisi, bagi petani/ternak terutama di punyak musim panas.


Apresiasi dan dukungan itu disampaikan langsung oleh Kepala BPTP NTT, Dr. Proculla Rudolof Matitaputty, S.Pt, M.Si saat mengunjungi kantor dan pusat kegiatan YPF di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Rabu (19/05/2021).


Kehadiran Kepala BPTP NTT Rudolof Matitaputty yang didampingi peneliti senior BPTP NTT Ir. Debora Kana Hau, M.Si, serangkaian kunjungan kerja ke Kabupaten Ngada. Di kantor YPF, keduanya diterima Ketua Yayasan Puge Figo Emanuel Djomba, didamping Pimbina YPF Nao Remon, Kepala Divisi Reboisasi Raymundus Minggu, staf Botanik Magdalena Sureni Bugis dan sejumlah staf YPF.


Pertamuan dua pejabat BPTP NTT dengan manajemen YPF berlangsung selama dua jam dalam suasana santai penuh keakraban. Dalam diskusi itu, Kepala BPTP NTT Rudolof Matitaputty memperkenalkan tugas pokok dan fungsi lembaga yang dipimpinnya.


Pembina YPF Nao Remon juga memperkenalkan visi/misi serta program YPF yang sudah berkiprah di masyarakat sejak enam tahun lalu itu. Kata Nao Remon, YPF merupakan yayasan yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan, khususnya restorasi lahan kritis dan pemberdayaan petani. YPF dilengkapi dengan divisi Reoboisasi & pembibitan, Divisi Tanaman Aromatik (TAO) dan Divisi Edukasi Ekologi.


Reboisasi Berbasis Pakan Ternak


Sementara Ketua YPF Emanauel Djomba memberi apresiasi kepada Kepala BPTP NTT Rudolof Matitaputty bersama peneliti senior BPTP NTT Ir. Debora Kana Hau, yang telah mengunjungi YPF. Pada kesempatan itu, Emanuel menyampaikan program Rebosiasi berbasis pakan ternak yang kini memasuki tahun kedua.


Baik Nao Remon maupun Emanuel, menjelaskan bahwa program rebosiasi berbasis pakan ternak sebenarnya berangkat dari keprihatinan terjadinya kebakaran di wilayah padang savana hingga wilayah hutan. Ternyata setelah dikaji kebakaran hutan disebabkan oleh faktor manusia, yang berkaitan dengan budaya berburu dan keinginan para petani/ternak lebih cepat mendapatkan hijauan baru bagi ternak mereka. Memasuki musim kering, memang banyak rumput yang kering sehingga tidak bisa dikonsumsi ternak.


Atas dasar itu, kemudian YPF mencoba meluncurkan program reboisasi berbasis pakan ternak yang sebenarnya sifatnya masih tahap uji coba, namun dalam perjalanan ternyata animo petani/ternak terhadap program penyediaan pakan yang juga memberi manfaat ekologis ini justru mulai diminati.


Menurut Emanuel, program reboisasi berbasis pakan ternak yang dikembangkan oleh YPF bertujuan untuk membantu para petani/ternak agar tidak kesulitan pakan terutama di musim kering. YPF dalam program ini menawarkan pakan ternak jenis leguminosa.


“Melalui penanaman pakan jenis Leguminosa diharapkan dapat memberi manfaat/fungsi ganda, baik untuk penyediaan pakan ternak di musim kering, maupun untuk memenuhi fungsi ekologis, yakni dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mencegah erosi,” jelas Emanuel.


Ditambahkan Emanuel, fungsi ekologis menjadi fokus perhatian YPF sebagai langkah menjawab visi/misi yayasan ini dalam pelestarian lingkungan hidup melalui program restorasi lahan kering. Tahun 2021 adalah tahun kedua YPF menawarkan program reboisasi berbasis pakan ternak bagi petani/ternak di kabupaten Ngada dan Nagekeo.


Melalui program ini diharapkan memberi kecukupan pakan bagi ternak para petani khusunya di musim panas. Jangka panjangnya ada perubahan kultur berternak tradisional yang biasanya digembala/diikat dipadang dengan mengandalkan hijaun rumput alam, beralih ke system pertanian modern secara terpadu. Namun diharapkan ada perubahan perilaku yang dimulai niat


Diperluas


Merespons upaya reboisasi berbasis pakan ternak khusus taramba secara luas sebagai salah satu jenis pakan ternak bernutrisi tinggi, Debora Kana yang telah melakukan kajian khusus tentang taramba di NTT ini, mendorong YPF agar program rebosiasi berbasis pakan ternak terus diperluas. Dia menawarkan jenis leguminosa taramba yang sudah teruji dan kini menunjukkan hasil luar biasa seperti di daerah Naibonat maupun Camplong, Timor.


Kawasan yang dulu tandus itu, kata Debora atau yang akrab disapa Deby, kini hijau dengan taramba. Ratusan hektar lahan taramba yang ditanam di sana memberi manfaat bagi para petani/ternak, menyuburkan tanah yang gersang, menyimpan air tanah dan kini biji taramba sudah juga dipanen oleh para petani. Menyusul NTT yang kini direkomendasi sebagai penyedia benih taramba secara nasional, penjualan benih taramba dapat meningkatkan ekonomi petani di sana.


Dikemukakan Deby, program penanaman taramba di Camplong awalnya sebenarnya untuk tujuan reboisasi, tetapi ternyata membawa banyak manfaatnya. Selain reboisasi dengan manfaat ikutan, taramba juga menjadi pakan ternak berkualitas tinggi.


“Kita sudah uji, malah bisa menangkap air di dalam tanah, menjadi sumber nitrogen, jadi lahan-lahan kritis bisa lebih subur. Kita sudah lakukan penelitian bisa dipadukan dengan tanaman pangan sehingga memberi kesuburan tanah, sehingga pPupuk kimia sekarang menjadi masalah. Jadi kita mesti berpikir juga manfaat ekologi,” katanya.


Uji Adaptasi


Dalam sheringnya di YPF terkait sukses reboisasi taramba di Timor, Deby juga mengatakan bahwa areal reboisasi taramba yang kini mencapai ratusan hektar, awalnya demplot saja. Waktu itu demplot hanya sekitar 20 hektare.


“Kita tidak mau paksa orang untuk tanam waktu itu, makanya demplot saja. Namun kemudian masyarakat di sana melihat apa yang hijau di sana kemudian hari, lalu mulai tertarik. Lebih lanjut mereka mulai bergerak sendiri karena reboisasi taramba memberi manfaat sangat besar,” papar Deby.


Menurut Deby, tarambah asal ditaman awal musim hujan akan terus berkembang, lamtoro jenis ini tidak akan mati meski terbakar. Terkait dengan reboisasi yang menjadi program YPF, Deby mendorong menggunakan salah satu jenis pakan ternak ini cukup efektif dan banyak manfaat.


Menjawab Nao Remon, Deby mengatakan, taramba merupakan lamtoro introduksi yang sudah melalui proses uji adaptasi di kondisi kita di NTT yang tumbuh hampir di semua tempat. Taramba punya kelebihan karena lebih tahan hama kutu locat, kalau pun diserang taramba mempu recovery sendiri secara cepat sehingga tidak sampai hitam parah seperti pada lamtoro gung atau lamtoro lokal.


“Itu yang membedakan taramba dengan lamtoro lain. Selain itu, taramba punya kandungan nutrisi yang tinggi. Jadi kalau mau adakan perbenihan jangan mengambilnya dari sumber yang beresiko,” kata Deby.


Deby yang melakukan kajian dan uji adaptasi terhadap taramba mengatakan, lamtoro jenis ini diambil benar-benar dari lokasi yang kita sudah seleksi dari awal. Tidak ada lamtoro lain yang ditanam di situ dan tidak bisa diambil dari semua tempat, kecuali tempat yang sudah diseleksi sangat ketat.


Soal kecepatan produksi, Deby mengatakan, tergantung tanah. Dia mencontohkan di Naibonat dengan tanah berbatu dalam waktu 7 bulan sudah bisa panen dengan ketinggian 11 meter.


Taramba, kata Deby adalah pakan ternak jenis legume yang nutrisinya tinggi, yakni kisaran 24 – 26 persen. Padahal kebutuhan protein sapi hanya separohnya, atau sekitar 13 – 14 persen, jadi taramba dua kali lipat. Kalau ternak hanya dikasih taramba itu pemborosan, makanya perlu kombinasi dengan rumput 50 : 50. Kalau hanya hijauan ilalang di padang itu hanya memenuhi kandungan nutrisi di bawah 8 persen. Ini sangat rendah dan serat kasarnya sangat tinggi. Karena itu perlu kombinasi dengan protein dari legum seperti taramba.


Usai berdiskusi, Kepala BPTP NTTProculla RudolofMatitaputty menyerahkan menyerahkan benih taramba dan clitoria yang diterima Kepala Divisi Reboisasi Raymundus Minggu. Sementara Ketua YPF Emanuel Djomba menyerahkan sampel minyak gosok dan kosmetik produksi lokal dari Yayasan Puge Figo kepada Kepala BPTP NTTProculla RudolofMatitaputty. Oleh-oleh produk lokal itu juga diserahkan kepada peneliti senior BPTP NTT Debora Kana Hau oleh Pembina YPF Nao Remon.*



Comentarios


bottom of page