top of page

FACEBOOK

Menutup Pameran Ronarai dengan Menelusuri Situs Puge Figo Wolomeze

21 Okt
3 menit membaca

MALADHAWI, NGADA, FLORES — Rangkaian Pameran Ronarai bertema “Terhubung Kembali dengan Hutan” berlanjut pada Sabtu, 17 Oktober 2026, melalui kegiatan trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze. Kegiatan ini menjadi bagian dari penutup pameran yang diselenggarakan oleh kelompok anak muda Ronarai Maladhawi pada 16–17 Oktober 2026 di Lapangan Kampung Maladhawi, Desa Nginamanu Selatan, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.


Peserta kegiatan Ronarai bersama Yayasan Puge Figo melakukan trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze, Ngada, Flores.

Setelah hari pertama diisi dengan diskusi kelompok, pengenalan kerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK), permainan tradisional, pertunjukan budaya, serta pemutaran film bertema lingkungan, peserta melanjutkan rangkaian kegiatan melalui perjalanan menuju situs Puge Figo Wolomeze.


Trekking ini menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran Ronarai yang menghubungkan anak muda dengan hutan dan lingkungan di sekitarnya. Melalui kegiatan tersebut, rangkaian pameran tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan masyarakat, tetapi juga dilanjutkan dengan kegiatan di luar area pameran.


Dari ruang pameran menuju hutan Wolomeze

Hari kedua dimulai dengan sarapan bersama pada pukul 07.00–08.00 WITA. Setelah itu, peserta mengikuti trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 08.00–10.30 WITA.


Perjalanan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan pengalaman belajar di dalam kelompok dengan lingkungan tempat pengetahuan tentang hutan berkembang. Dalam konteks Ronarai, hutan dipahami sebagai ruang yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pemanfaatan hasil hutan bukan kayu hingga pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi.


Hutan Wolomeze menyimpan berbagai potensi yang dikenal masyarakat setempat. Selain menjadi bagian dari lingkungan yang menopang kehidupan, hutan juga menyediakan bahan yang dimanfaatkan dalam keseharian, termasuk bahan untuk kerajinan tradisional. Pengetahuan tentang bahan-bahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengalaman masyarakat dalam mengenali dan memanfaatkan lingkungan sekitarnya.


Karena itu, menghubungkan anak muda dengan hutan menjadi salah satu perhatian dalam proses Ronarai. Generasi muda perlu memiliki kesempatan untuk mengenal lingkungan di sekitarnya, memahami pengetahuan yang dimiliki masyarakat, serta melihat keterkaitan antara pemanfaatan hasil hutan dan keberlanjutan ekosistem.


Ronarai dan pendampingan Yayasan Puge Figo

Ronarai merupakan inisiatif yang didampingi Yayasan Puge Figo dengan tujuan menghubungkan anak muda dengan hutan untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Program ini memberi ruang bagi generasi muda untuk mempelajari hasil hutan bukan kayu dan pengetahuan lokal melalui percakapan bersama masyarakat, pemetaan partisipatif, penelusuran hutan, serta praktik keterampilan tradisional.


Pada tahap awal, proses belajar Ronarai berangkat dari cerita masyarakat mengenai berbagai hasil hutan yang dikenal dan dimanfaatkan. Cerita tersebut kemudian menjadi dasar untuk mengenali potensi HHBK, memetakan keberadaannya, dan menelusuri jenis-jenis yang ditemukan di hutan.


Dalam proses berikutnya, kelompok anak muda memilih untuk mempelajari keterampilan menganyam dengan bahan seperti rotan, kua, dan mindu. Pembelajaran ini mempertemukan pengetahuan tentang bahan dari hutan dengan keterampilan yang dapat dikembangkan melalui praktik langsung.


Pameran pada 16–17 Oktober menjadi salah satu ruang bagi kelompok Ronarai untuk membagikan proses tersebut kepada masyarakat. Sementara itu, trekking pada hari kedua menjadi bagian lanjutan dari rangkaian kegiatan yang membawa peserta kembali pada lingkungan hutan yang menjadi salah satu fokus pembelajaran program.


Melalui pendampingan ini, Yayasan Puge Figo mendorong proses belajar yang melibatkan anak muda dan masyarakat. Pengetahuan lokal mendapat ruang untuk dibagikan, sementara generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal dan mempelajarinya melalui berbagai bentuk kegiatan.


Menghubungkan pengetahuan lokal dengan keberlanjutan hutan

Pengetahuan mengenai hutan tidak hanya berkaitan dengan jenis tumbuhan atau bahan yang dapat dimanfaatkan. Di dalamnya terdapat pengalaman masyarakat dalam mengenali musim, memahami kegunaan tanaman, mengolah bahan, dan menentukan cara pemanfaatan yang sesuai dengan kebutuhan.


Pengetahuan semacam ini penting untuk diteruskan karena berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan cara mereka berhubungan dengan lingkungan. Ketika kesempatan untuk belajar bersama antargenerasi semakin terbatas, ruang pertemuan antara anak muda dan para pemilik pengetahuan lokal menjadi semakin berarti.


Melalui Ronarai, proses tersebut diupayakan melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Nalo membuka ruang percakapan, penelusuran hutan membantu mengenali potensi HHBK, sedangkan praktik menganyam memberikan kesempatan bagi anak muda untuk mempelajari keterampilan tradisional.


Rangkaian pameran kemudian mempertemukan berbagai proses itu dalam kegiatan bersama masyarakat. Permainan tradisional, pertunjukan budaya, kerajinan, dan diskusi film lingkungan menghadirkan beragam cara untuk membicarakan hubungan manusia dengan lingkungan.


Trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze menjadi bagian dari rangkaian yang sama. Kegiatan ini melengkapi proses belajar yang berlangsung selama pameran dan kembali mengarahkan perhatian peserta pada lingkungan hutan.


Menutup rangkaian, melanjutkan proses belajar

Setelah trekking yang dijadwalkan berlangsung hingga pukul 10.30 WITA, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Sayonara di area pameran. Kegiatan ini menandai berakhirnya rangkaian Pameran Ronarai selama dua hari di Maladhawi.


Peserta kegiatan Ronarai bersama Yayasan Puge Figo melakukan trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze, Ngada, Flores.

Pameran tersebut menjadi salah satu ruang bagi kelompok anak muda Ronarai untuk memperkenalkan proses belajar mereka kepada masyarakat. Berbagai kegiatan yang diselenggarakan memperlihatkan hubungan antara pengetahuan lokal, keterampilan tradisional, edukasi lingkungan, dan upaya mengenali potensi hasil hutan bukan kayu.


Bagi Yayasan Puge Figo, pendampingan Ronarai merupakan bagian dari upaya menghubungkan generasi muda dengan hutan untuk mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Proses ini membutuhkan ruang belajar yang dapat terus dikembangkan, termasuk melalui keterlibatan masyarakat dan penerusan pengetahuan antargenerasi.


Berakhirnya pameran menandai selesainya satu rangkaian kegiatan, sementara proses belajar tentang hutan dan pengetahuan lokal tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Ronarai. Melalui keterlibatan anak muda, pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat memiliki kesempatan untuk terus dikenali, dipelajari, dan dikembangkan bagi keberlanjutan hutan Wolomeze.

Komentar


POSTINGAN TERBARU

leaves Yayasan Puge Figo
Leave green Puge Figo
Rectangle white Puge Figo
Logo Yayasan Puge Figo Putih

DIBALIK POHON, MANUSIA

DAPATKAN NOTIFIKASI ARTIKEL
DAN BERITA KAMI

Terimakasih! Nantikan berita dan artikel Puge Figo

SOSIAL MEDIA 

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Whatsapp
ornamen dekoratif footer yayasan Puge Figo

© 2025, Divisi Komunikasi | Yayasan Puge Figo Made With Love 💖

bottom of page