top of page

FACEBOOK

Pameran Ronarai di Maladhawi: Menghubungkan Anak Muda, Pengetahuan Lokal, dan Hutan Wolomeze

20 Okt
4 menit membaca

MALADHAWI, NGADA, FLORES — Kelompok anak muda Ronarai Maladhawi menggelar pameran bertema “Terhubung Kembali dengan Hutan” pada 16–17 Oktober 2026 di Lapangan Kampung Maladhawi, Desa Nginamanu Selatan, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan proses belajar anak muda tentang hasil hutan bukan kayu (HHBK), pengetahuan lokal, kerajinan tradisional, serta hubungan masyarakat dengan hutan Wolomeze.


Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Pameran ini merupakan bagian dari perjalanan Ronarai, sebuah inisiatif yang didampingi Yayasan Puge Figo untuk menghubungkan generasi muda dengan hutan dan mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Melalui proses ini, anak muda diajak mengenali kembali potensi hasil hutan, mendengarkan pengetahuan para tetua, dan mempelajari keterampilan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kehidupan masyarakat.


Rangkaian kegiatan hari pertama, Jumat (16/10), berlangsung melalui sejumlah aktivitas yang menggabungkan diskusi kelompok, pengenalan kerajinan, permainan tradisional, pertunjukan budaya, hingga pemutaran dan diskusi film bertema lingkungan.


Dari proses belajar menjadi ruang berbagi

Sebelum pameran diselenggarakan, kelompok Ronarai telah menjalani proses belajar yang berangkat dari cerita masyarakat mengenai hutan dan hasil hutan bukan kayu. Pengetahuan tersebut kemudian ditelusuri melalui pemetaan partisipatif dan perjalanan ke hutan untuk mengenali berbagai jenis hasil hutan yang dimanfaatkan masyarakat.


Dalam proses pendampingan Yayasan Puge Figo, anak muda tidak hanya diperkenalkan pada jenis-jenis HHBK, tetapi juga diajak memahami pengetahuan yang menyertai pemanfaatannya. Pengetahuan tersebut mencakup cara mengenali bahan, mengetahui kegunaannya, serta memahami keterampilan tradisional yang diwariskan antargenerasi.


Salah satu keterampilan yang kemudian dipelajari kelompok Ronarai adalah menganyam dengan memanfaatkan bahan dari hutan, seperti rotan, kua, dan mindu. Proses ini membuka ruang bagi anak muda untuk mengenal bahan-bahan lokal sekaligus melihat kemungkinan pengembangan kerajinan sebagai bagian dari ekonomi berkelanjutan.


Pameran menjadi kesempatan bagi kelompok untuk membagikan proses tersebut kepada masyarakat. Pengunjung dapat melihat hasil kerajinan yang diperkenalkan sekaligus mengenal cerita dan keterampilan yang melatarbelakanginya.


Nalo membicarakan keberlanjutan kelompok anak muda

Rangkaian kegiatan hari pertama dimulai pukul 10.00–12.30 WITA melalui kegiatan Nalo bertema “Keberlanjutan Kelompok Anak Muda Ronarai” yang berlangsung di rumah Bapa Sius Nende.


Nalo merupakan ruang pertemuan dan percakapan yang digunakan untuk membicarakan berbagai hal bersama masyarakat. Dalam rangkaian Ronarai, ruang ini menjadi bagian dari proses membangun komunikasi, berbagi pengalaman, dan membicarakan keberlanjutan kelompok anak muda.



Pembicaraan mengenai keberlanjutan menjadi penting karena proses belajar tentang hutan tidak berhenti ketika satu kegiatan selesai. Pengetahuan yang telah diperoleh perlu terus dipraktikkan, dibagikan, dan dikembangkan oleh kelompok agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.


Pendampingan Yayasan Puge Figo melalui Ronarai memberi ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam proses tersebut. Harapannya, kelompok dapat terus membangun inisiatif bersama dan menjaga hubungan dengan masyarakat yang memiliki pengetahuan mengenai hutan serta hasil hutan bukan kayu.


Setelah kegiatan Nalo, rangkaian dilanjutkan pukul 12.30–14.30 WITA dengan Sabu Rupa dan makan siang. Waktu ini menjadi bagian dari rangkaian pertemuan sebelum kegiatan berlanjut ke permainan tradisional dan pembukaan area pameran.


Permainan gasing dan Tari Sanggualu meramaikan kegiatan

Pada pukul 14.30–15.30 WITA, peserta mengikuti permainan gasing dan menyaksikan pertunjukan Tari Sanggualu. Kedua kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pameran yang memberi ruang bagi permainan dan ekspresi budaya lokal.

Kehadiran permainan tradisional dan pertunjukan tari melengkapi kegiatan yang sebelumnya berfokus pada diskusi dan pengenalan hasil hutan. Pameran tidak hanya menjadi tempat memperlihatkan produk kerajinan, tetapi juga ruang pertemuan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Rangkaian ini kemudian berlanjut ke area pameran yang dibuka untuk pengunjung mulai pukul 15.30 WITA. Melalui kegiatan tersebut, kelompok Ronarai memperkenalkan hasil pembelajaran mereka kepada masyarakat yang hadir di Kampung Maladhawi.


Memperkenalkan kerajinan HHBK dan proses pembuatannya

Salah satu bagian penting dalam pameran adalah pengenalan kerajinan berbahan hasil hutan bukan kayu. Beberapa bahan yang menjadi bagian dari proses belajar Ronarai adalah rotan, kua, dan mindu. Bahan-bahan tersebut berkaitan dengan pengetahuan masyarakat mengenai hutan dan keterampilan mengolah hasilnya.


Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Pada pukul 17.00 WITA, rangkaian kegiatan turut menandai pembukaan stan pembuatan Reto Manu. Kegiatan ini memperlihatkan keterampilan menganyam sebagai pengetahuan yang dapat dipelajari melalui praktik langsung dan proses berbagi antargenerasi.


Bagi kelompok Ronarai, pembelajaran menganyam menjadi salah satu cara untuk mengenal kembali hubungan antara bahan dari hutan dan keterampilan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Proses tersebut juga membuka percakapan mengenai bagaimana pengetahuan lokal dapat terus dipraktikkan oleh anak muda.


Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Dalam konteks program Yayasan Puge Figo, pengenalan HHBK dan keterampilan pengolahannya berkaitan dengan upaya mengembangkan ekonomi berkelanjutan berbasis potensi lokal. Pemanfaatan hasil hutan perlu disertai pengetahuan mengenai asal bahan, cara pengolahan, serta pentingnya menjaga keberlanjutan hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat.


Karena itu, hasil kerajinan yang ditampilkan dalam pameran menjadi bagian dari cerita yang lebih luas: bagaimana anak muda mengenal potensi di sekitarnya dan mulai membangun hubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat.


Film lingkungan menjadi bahan diskusi bersama

Setelah makan malam pada pukul 19.00 WITA, kegiatan berlanjut pada pukul 20.00–21.00 WITA melalui pemutaran film bertema lingkungan dan diskusi bersama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan isu lingkungan melalui media audiovisual sekaligus membuka ruang percakapan di antara peserta.


Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Pemutaran film melengkapi pendekatan belajar yang digunakan dalam rangkaian Ronarai. Jika kegiatan sebelumnya menghadirkan pengetahuan melalui percakapan, pengamatan bahan, dan praktik kerajinan, film memberikan ruang untuk membicarakan persoalan lingkungan melalui tayangan dan diskusi.


Edukasi ekologi merupakan salah satu bidang kerja Yayasan Puge Figo. Melalui pendekatan edukasi dan keterlibatan masyarakat, persoalan lingkungan dapat dibicarakan dengan menghubungkannya pada kehidupan sehari-hari serta pengalaman masyarakat setempat.


Bagi anak muda Ronarai, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari ruang belajar bersama. Hutan tidak hanya dipahami melalui potensi hasil yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga melalui pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.


Setelah pemutaran film dan diskusi selesai, peserta memasuki waktu bebas untuk beristirahat atau berkemah. Rangkaian hari pertama pun ditutup setelah berbagai kegiatan berlangsung sejak pagi hingga malam.


Menjaga hubungan anak muda dengan hutan

Pameran Ronarai di Maladhawi mempertemukan sejumlah proses pembelajaran dalam satu rangkaian kegiatan. Diskusi Nalo, permainan gasing, Tari Sanggualu, pengenalan kerajinan, pembuatan Reto Manu, serta pemutaran dan diskusi film lingkungan menjadi bagian dari upaya kelompok anak muda untuk berbagi pengalaman dengan masyarakat.


Melalui pendampingan Yayasan Puge Figo, Ronarai menghubungkan pembelajaran mengenai hasil hutan bukan kayu dengan pengetahuan lokal dan keterampilan yang dapat diteruskan antargenerasi. Proses ini juga membuka ruang bagi anak muda untuk melihat potensi pengelolaan hasil hutan secara berkelanjutan, tanpa melepaskan pentingnya menjaga hutan itu sendiri.


Pameran Ronarai di Maladhawi, Flores | Puge Figo

Rangkaian Pameran Ronarai dijadwalkan berlanjut pada Sabtu, 17 Oktober 2026, melalui trekking menuju situs Puge Figo Wolomeze. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian dua hari yang mengajak peserta melanjutkan proses belajar di luar area pameran, dengan kembali mendekatkan perhatian pada lingkungan hutan Wolomeze.

Komentar


POSTINGAN TERBARU

leaves Yayasan Puge Figo
Leave green Puge Figo
Rectangle white Puge Figo
Logo Yayasan Puge Figo Putih

DIBALIK POHON, MANUSIA

DAPATKAN NOTIFIKASI ARTIKEL
DAN BERITA KAMI

Terimakasih! Nantikan berita dan artikel Puge Figo

SOSIAL MEDIA 

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Whatsapp
ornamen dekoratif footer yayasan Puge Figo

© 2025, Divisi Komunikasi | Yayasan Puge Figo Made With Love 💖

bottom of page