top of page

FACEBOOK

Monitoring Perlindungan Kawasan Mata Air Ino dan Mata Air Galawae di Desa Denatana Timur: Menjaga Sumber Kehidupan untuk Generasi Mendatang

Yayasan Puge Figo Melanjutkan Upaya Konservasi Mata Air di Flores

Perlindungan kawasan mata air merupakan salah satu strategi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air, mengurangi risiko erosi, serta mendukung ketahanan lingkungan dan kehidupan masyarakat pedesaan. Melalui Program Perlindungan Mata Air dan Sempadan Embung, Yayasan Puge Figo terus melakukan pendampingan dan restorasi kawasan sumber air di berbagai wilayah Flores dengan pendekatan berbasis vegetasi lokal dan partisipasi masyarakat.


Program ini menjadi bagian dari komitmen Yayasan Puge Figo dalam memulihkan ekosistem yang terdegradasi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat.


Kawasan Mata Air Galawae
Kawasan Mata Air Galawae

Pada Juni 2026, tim Divisi Reforestasi Yayasan Puge Figo melakukan kegiatan monitoring terhadap kawasan Mata Air Ino dan Mata Air Galawae yang berada di Desa Denatana Timur. Monitoring dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan tanaman hasil penanaman tahun 2024 serta menilai kondisi ekologis kawasan setelah dua tahun intervensi konservasi dilakukan.


Monitoring Mata Air Ino: Membangun Kembali Tutupan Vegetasi di Lahan Kebun

Mata Air Ino merupakan salah satu sumber air penting yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber irigasi pertanian. Nama "Ino" berasal dari keberadaan tumbuhan perdu lokal yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai tanaman ino dan dahulu banyak ditemukan di sekitar kawasan mata air tersebut.


Tanaman Ino
Tanaman Ino

Berdasarkan hasil asesmen vegetasi yang dilakukan sebelum program konservasi dimulai, kawasan Mata Air Ino memiliki kondisi tutupan lahan yang didominasi oleh vegetasi budidaya seperti kelapa, kakao, dan kopi. Vegetasi alami penyusun kawasan mata air hampir tidak ditemukan. Tekanan dari aktivitas kebun dan gangguan ternak dalam jangka panjang menyebabkan berkurangnya regenerasi alami tumbuhan lokal yang berfungsi menjaga keseimbangan hidrologis kawasan.


Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2024 Yayasan Puge Figo bersama Pemerintah Desa Denatana Timur memulai upaya pelestarian kawasan melalui penanaman berbagai jenis pohon lokal yang memiliki fungsi ekologis sebagai penyimpan air dan penguat struktur tanah. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 2025 melalui penyulaman dan penambahan anakan untuk meningkatkan keberhasilan restorasi kawasan.


Jenis tanaman yang ditanam meliputi Gayam (Inocarpus fagifer), Beringin (Ficus spp.), Ara, Moke Enau (Arenga pinnata), Lokon, Kenari (Canarium indicum), Salam, dan Pandan Hutan. Pemilihan jenis-jenis tersebut mempertimbangkan kemampuan adaptasi terhadap kondisi setempat serta perannya dalam meningkatkan fungsi hidrologis kawasan mata air.


Tanaman yang hidup di kawasan mata air Ino
Tanaman yang hidup di kawasan mata air Ino

Hasil monitoring menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sebagian besar anakan yang ditanam pada tahun 2024 masih bertahan hidup dan menunjukkan pertumbuhan yang baik. Beberapa jenis bahkan telah memperlihatkan pertumbuhan tajuk yang cukup signifikan sehingga mulai memberikan naungan pada area sekitar sumber air.


Namun demikian, tim juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu segera ditangani. Hambatan utama yang ditemukan adalah tidak adanya kegiatan pemeliharaan pasca tanam. Akibatnya, banyak anakan mengalami tekanan pertumbuhan karena terhimpit oleh tumbuhan liana, semak belukar, dan rerumputan yang tumbuh sangat cepat di sekitar lokasi penanaman.


Secara ekologis, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan tanaman muda karena terjadi kompetisi cahaya, ruang tumbuh, unsur hara, dan air. Jika tidak dilakukan penyiangan secara berkala, beberapa anakan berpotensi mengalami stagnasi pertumbuhan bahkan kematian.


Meski demikian, keberadaan anakan yang masih bertahan menunjukkan bahwa proses pemulihan ekosistem telah berjalan. Dalam jangka panjang, pohon-pohon yang tumbuh di sekitar mata air diharapkan mampu membentuk iklim mikro yang lebih sejuk, meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi penguapan, serta memperkuat fungsi kawasan sebagai penyedia air bagi lahan pertanian masyarakat.


Monitoring Mata Air Galawae: Menyiapkan Generasi Baru Penyangga Sumber Air

Selain Mata Air Ino, tim juga melakukan monitoring di kawasan Mata Air Galawae yang berada di Desa Denatana Timur. Mata air ini memiliki karakteristik bentang alam yang berbeda karena muncul dari lereng curam dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Sumber utama aliran air berasal dari kawasan hutan Pomarera yang berada di bagian hulu.


Mata Air Galawae merupakan sumber air yang penting bagi masyarakat karena dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian. Oleh karena itu, keberlanjutan kawasan vegetasi di sekitar mata air menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas debit air serta mencegah terjadinya erosi pada lereng yang cukup terjal.


Pada tahun 2024, Yayasan Puge Figo bersama masyarakat melakukan penanaman sebanyak 250 anakan yang terdiri atas berbagai jenis pohon lokal seperti Ara, Beringin, Gayam, Kenari, Lele, Lokon, Pandan, dan Pinang.


Tanaman yang hidup di kawasan mata air Galawae
Tanaman yang hidup di kawasan mata air Galawae

Hasil monitoring lapangan menunjukkan bahwa dari 250 anakan yang ditanam, sekitar 105 anakan masih hidup hingga saat ini. Sebagian besar anakan yang bertahan memperlihatkan pertumbuhan yang baik dengan perkembangan batang dan tajuk yang cukup menjanjikan. Namun sebagian lainnya mengalami tekanan pertumbuhan akibat dominasi gulma yang menutupi area tanam.



Temuan lain yang menjadi perhatian adalah tidak adanya kegiatan pemeliharaan pasca tanam. Kondisi ini menyebabkan beberapa anakan mengalami kematian akibat persaingan dengan vegetasi pengganggu. Pada kawasan restorasi, fase awal pertumbuhan merupakan periode yang sangat menentukan keberhasilan penanaman sehingga pemeliharaan rutin menjadi faktor penting untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup tanaman.


Selain itu, tim juga menemukan beberapa pohon besar yang tumbang akibat faktor usia alami. Pohon-pohon yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Mengi atau Nengi tersebut diperkirakan telah berumur puluhan tahun.


Pohon tumbang
Pohon tumbang

Tumbangnya pohon-pohon tua merupakan bagian dari dinamika alami ekosistem hutan yang terjadi melalui proses regenerasi vegetasi.


Beberapa anakan memang ditemukan rusak dan mati akibat tertimpa batang pohon yang roboh. Namun di sisi lain, peristiwa ini juga membuka ruang tumbuh baru bagi vegetasi muda yang sedang berkembang. Dalam perspektif ekologi hutan, regenerasi alami dan regenerasi buatan melalui penanaman merupakan dua proses yang saling melengkapi untuk menjaga keberlanjutan tegakan pohon dalam jangka panjang.


Anakan yang ditanam Yayasan Puge Figo pada tahun 2024 diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang menggantikan pohon-pohon tua tersebut di masa mendatang. Ketika pohon-pohon muda ini tumbuh dewasa, mereka akan berfungsi sebagai penyangga lereng, penyimpan cadangan air tanah, penghasil serasah organik, serta habitat bagi berbagai organisme yang mendukung kesehatan ekosistem mata air.


Harapan Bersama untuk Masa Depan Mata Air

Hasil monitoring di Mata Air Ino dan Mata Air Galawae menunjukkan bahwa upaya restorasi yang dilakukan telah memberikan dampak positif terhadap pemulihan vegetasi kawasan sumber air. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait pemeliharaan pasca tanam, banyak anakan yang berhasil bertahan dan menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan.


Tim Yayasan Puge Figo berharap hasil monitoring ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama Pemerintah Desa Denatana Timur dan masyarakat setempat. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga, membersihkan, dan merawat tanaman yang telah ditanam akan sangat menentukan keberhasilan konservasi dalam jangka panjang.


Perlindungan mata air bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga memastikan pohon-pohon tersebut tumbuh hingga dewasa dan mampu menjalankan fungsi ekologisnya. Dengan demikian, kawasan mata air dapat terus menyediakan air bagi pertanian, menjaga kestabilan tanah dari ancaman erosi, serta mendukung kehidupan generasi mendatang.

Komentar


POSTINGAN TERBARU

leaves Yayasan Puge Figo
Leave green Puge Figo
Rectangle white Puge Figo
Logo Yayasan Puge Figo Putih

DIBALIK POHON, MANUSIA

DAPATKAN NOTIFIKASI ARTIKEL
DAN BERITA KAMI

Terimakasih! Nantikan berita dan artikel Puge Figo

SOSIAL MEDIA 

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Whatsapp
ornamen dekoratif footer yayasan Puge Figo

© 2025, Divisi Komunikasi | Yayasan Puge Figo Made With Love 💖

bottom of page