top of page

FACEBOOK

Program Endozoochory Yayasan Puge Figo Sebarkan Polong Kupe di Lahan Kritis

Yayasan Puge Figo melalui Divisi Reforestasi menjalankan Program Endozoochory sebagai salah satu upaya mendukung permudaan alami pada sejumlah lahan kritis di wilayah kerja. Metode ini memanfaatkan ternak atau satwa sebagai media penyebaran benih melalui kotorannya. Sebanyak 250 kg polong Kupe disebarkan pada 25 titik di beberapa kawasan.


Puge Figo Sebarkan Polong Kupe di Lahan Kritis

Endozoochory: Memanfaatkan Pergerakan Satwa untuk Menyebarkan Benih

Endozoochory merupakan metode penyebaran benih dengan memanfaatkan satwa yang mengonsumsi buah atau biji tumbuhan. Benih yang tertelan kemudian dapat keluar kembali bersama feses di lokasi yang berbeda dari tempat tumbuhan asal.


Dalam kondisi alami, proses tersebut merupakan bagian dari permudaan alami, ketika tumbuhan memperbanyak dan menyebarkan generasinya tanpa seluruh proses dilakukan melalui penanaman langsung oleh manusia.


Program Endozoochory Yayasan Puge Figo mencoba melihat bagaimana proses tersebut dapat dimanfaatkan dalam konteks pemulihan lahan kritis.


Mengapa Menggunakan Kupe?

Jenis yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Kupe arau dalam Pohon Kupu-kupu, yang secara ilmiah dikenal sebagai Bauhinia hirsutaĀ Weinm.Ā dan termasuk dalam famili Fabaceae.


Polong Kupe

Pemilihan Kupe didasarkan pada pengamatan di lapangan. Polong atau buah Kupe banyak dikonsumsi oleh ternak sapi.Ā Biji yang terdapat di dalam polong dapat melewati sistem pencernaan sapi dan keluar bersama kotoran.


Kondisi tersebut menjadi alasan utama Kupe dipilih dalam metode ini.

Ketika musim penghujan tiba, biji Kupe yang berada di dalam kotoran sapi berpeluang untuk berkecambah. Dengan demikian, pergerakan ternak dapat membantu membawa benih ke lokasi lain dan meninggalkannya bersama media yang juga dapat mendukung proses perkecambahan.


Kupe juga memiliki kemampuan untuk bertunas kembali setelah mengalami kebakaran, sebuah karakter yang relevan dengan kondisi sebagian lahan kritis yang menjadi lokasi kegiatan.


25 Titik di Sejumlah Lahan Kritis


Puge Figo Sebarkan Polong Kupe di Lahan Kritis

Penyebaran polong Kupe dilakukan pada beberapa kawasan dengan jumlah 10 kg pada setiap titik.

Kawasan

Jumlah titik

Polong Kupe

Nanggembaa

5 titik

50 kg

Kekabhoke

2 titik

20 kg

Zona A – Pomarusa

3 titik

30 kg

Zona B – Molobha Watunggebhe

2 titik

20 kg

Zona C – Wolonelu

2 titik

20 kg

Zona D – Wololoki

9 titik

90 kg

Zona E

2 titik

20 kg

Total

25 titik

250 kg

Penyebaran dilakukan pada titik-titik yang telah ditentukan di dalam kawasan, dengan harapan benih dapat terbawa oleh aktivitas ternak dan selanjutnya tersebar melalui kotoran sapi.


Wololoki: Salah Satu Lokasi dengan Tekanan Kebakaran

Salah satu lokasi dengan jumlah titik penyebaran terbanyak adalah Zona D Wololoki, dengan sembilan titik dan total 90 kg polong Kupe.


Wololoki merupakan lahan kritis berupa padang yang setiap tahun menghadapi kebakaran, terutama pada musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pemulihan vegetasi.


Bahkan, pada pelaksanaan kegiatan penanaman di kawasan tersebut, lahan telah mengalami kebakaran beberapa waktu sebelumnya.


Di Wololoki, Program Endozoochory berjalan berdampingan dengan upaya pemulihan lahan kritis melalui penanaman Gamal.


Tantangan Perkecambahan dan Pertumbuhan Kupe

Keberadaan benih di suatu lokasi belum berarti tanaman akan berhasil tumbuh.

Di lapangan, perkecambahan dan pertumbuhan Kupe dipengaruhi oleh kondisi tempat tumbuh. Kecambah dapat sulit bertahan pada lokasi dengan lapisan topsoil yang tipis, permukaan yang didominasi batuan cadas, maupun kondisi lahan yang kurang mendukung perkembangan akar.


Kebakaran berulang juga menjadi tantangan besar. Tanaman yang mulai tumbuh dapat kembali terdampak apabila api kembali melintasi kawasan.


Karena itu, keberhasilan metode ini tidak hanya akan dilihat dari jumlah benih yang disebarkan, tetapi dari apa yang terjadi setelah benih berada di lapangan.


Menjadi Ruang Penelitian Lapangan

Program Endozoochory juga dikembangkan sebagai ruang untuk mengamati lebih jauh potensi metode penyebaran benih melalui ternak.


Tindak lanjut akan dilakukan melalui monitoring secara bertahap, antara lain dengan:

  • mengamati potensi konsumsi buah atau polong Kupe oleh sapi;

  • mengambil GPS pointĀ pada lokasi ditemukannya kotoran sapi yang mengandung biji Kupe;

  • mengamati biji Kupe yang mulai berkecambah;

  • mencatat perkembangan kecambah dan pertumbuhan tanaman selanjutnya.


Hasil pengamatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana metode endozoochory dapat mendukung permudaan alami pada lahan kritis dengan kondisi lingkungan yang berbeda.


Dari Benih, Ternak, dan Lahan yang Terbakar

Program ini berangkat dari proses sederhana yang sebenarnya sudah berlangsung di alam: ternak memakan buah, benih berpindah, kemudian kembali ke tanah bersama kotorannya.


Di tengah kondisi lahan kritis dan kebakaran yang berulang, Yayasan Puge Figo mencoba memahami dan memanfaatkan proses tersebut sebagai bagian dari upaya pemulihan.


Keberhasilannya tentu membutuhkan waktu dan pengamatan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pemulihan lahan juga sangat bergantung pada bagaimana kawasan tersebut dijaga dari gangguan yang berulang.


Mari menjaga padang dan hutan di sekitar kita.

Jangan membakar padang sabana dan hutan.Karena satu api dapat menghapus pertumbuhan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali.

Komentar


POSTINGAN TERBARU

leaves Yayasan Puge Figo
Leave green Puge Figo
Rectangle white Puge Figo
Logo Yayasan Puge Figo Putih

DIBALIK POHON, MANUSIA

DAPATKAN NOTIFIKASI ARTIKEL
DAN BERITA KAMI

Terimakasih! Nantikan berita dan artikel Puge Figo

SOSIAL MEDIA 

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Whatsapp
ornamen dekoratif footer yayasan Puge Figo

© 2025, Divisi Komunikasi | Yayasan Puge Figo Made With Love šŸ’–

bottom of page