top of page

Program Agroforestry Restorasi Ekosistem dan Pemberdayaan Masyarakat

East Nusa Tenggara, Indonesia

Aktif

Agronomy

Deskripsi Proyek

Program Agroforestry atau Wana-tani merupakan pilar utama dalam strategi pengelolaan lahan berkelanjutan yang dijalankan di wilayah Kecamatan Wolomeze. Secara teknis, program ini adalah sebuah sistem penggunaan lahan terpadu yang mengombinasikan tanaman berkayu (pohon kehutanan/buah) dengan tanaman pertanian (komoditas semusim/rempah) serta peternakan, baik secara spasial maupun temporal. Tujuannya adalah untuk menciptakan kemandirian ekonomi petani sekaligus memulihkan daya dukung lingkungan.


Berikut adalah penjelasan mendetail mengenai struktur dan sub-program yang membentuk ekosistem Agroforestry:

1. Penataan Ruang Ekologis (Zonasi Lahan)

Program ini tidak dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan zonasi untuk memaksimalkan fungsi ekosistem:


Agroforestry Pinggiran Hutan (Forest Edge): Sub-program ini difokuskan pada lahan yang berbatasan langsung dengan hutan. Tujuannya adalah menciptakan "sabuk hijau" produktif. Dengan menanam komoditas seperti kakao, kopi, atau alpukat di area ini, tekanan masyarakat terhadap hutan inti berkurang karena kebutuhan ekonomi mereka telah terpenuhi di zona penyangga.


Agroforestry Penyangga Mata Air (Spring Buffer Zone): Lokasi ini sangat kritikal. Tanaman yang dipilih adalah jenis yang memiliki perakaran dalam dan kemampuan mengikat air yang tinggi. Integrasi tanaman komersial di zona ini dilakukan dengan standar organik ketat untuk memastikan tidak ada polusi kimia yang masuk ke sumber air warga.


2. Intensifikasi dan Optimalisasi Lahan Marjinal

Salah satu tantangan utama di wilayah program adalah adanya lahan-lahan yang tidak produktif, seperti sabana atau lahan tidur yang didominasi semak belukar.


Rehabilitasi Lahan: Divisi Agronomi melakukan identifikasi dan penataan lahan-lahan ini Lahan yang semula gersang diolah kembali dengan sistem multi-strata (tajuk berlapis).


Diversifikasi Tanaman: Sistem ini menolak monokultur. Dalam satu lahan, terdapat kombinasi antara pohon pelindung (Cendana, Kayu Manis), tanaman industri (Kakao, Kopi), dan tanaman sela (Vanili, Nilam, Lengkuas). Hal ini memastikan tanah selalu tertutup vegetasi, mencegah erosi, dan menjaga kelembapan mikro.


3. Pengembangan Komoditas Unggulan: Vanili

Vanili ditempatkan sebagai komoditas strategis karena nilai ekonominya yang sangat tinggi dan sifat biologisnya yang memerlukan naungan, sehingga sangat cocok dalam sistem Agroforestry.


Manajemen Budidaya: Petani didampingi dalam teknis penanaman yang tepat, mulai dari penggunaan pohon panjat (tegakan) yang hidup hingga pengaturan nutrisi tanah.


Hilirisasi dan Standarisasi: Program ini mencakup pengawasan mutu panen. Petani diedukasi untuk hanya memanen buah yang telah matang sempurna. Adanya perbedaan harga antara kualitas premium dan lokal menunjukkan upaya sistematis untuk meningkatkan posisi tawar petani di pasar internasional.


4. Penguatan Kapasitas Agroekologi

Program Agroforestry tidak akan berkelanjutan tanpa perubahan paradigma petani dari pertanian kimia ke pertanian ekologis.


Pelatihan Teknis Nutrisi Tanah: Divisi Agronomi memberikan pelatihan intensif mengenai pembuatan pupuk organik dan pestisida alami. Tujuannya adalah mengembalikan siklus hara tanah secara alami sehingga biaya produksi petani berkurang dalam jangka panjang.


Riset Terapan: Program ini melibatkan riset lapangan, seperti riset herbisida alami dan pemantauan tingkat kematian tanaman. Data ini digunakan untuk memberikan rekomendasi teknis yang lebih akurat kepada petani mitra agar kegagalan tanam dapat diminimalisir.


5. Ketahanan Pangan Lokal dan Subsisten

Meskipun berorientasi ekonomi, program ini tetap mewajibkan adanya unsur ketahanan pangan di setiap lahan.


Integrasi Pangan Lokal: Setiap mitra agroforestry didorong untuk menanam tanaman pangan (seperti jagung, umbi-umbian, atau sayuran) di sela-sela tanaman utama. Ini memastikan bahwa ketika harga komoditas pasar fluktuatif, kebutuhan konsumsi dasar keluarga petani tetap terjamin dari lahan sendiri.


6. Integrasi Produk Turunan (Minyak Atsiri)

Pemanfaatan lahan agroforestry juga mencakup tanaman penghasil minyak atsiri seperti Nilam. Dengan adanya fasilitas distilasi (penyulingan), program ini mampu menghasilkan produk bernilai tambah (minyak nilam) yang lebih mudah disimpan dan memiliki harga jual lebih stabil dibandingkan menjual daun mentah.

Lokasi Proyek

green.png
green.png
line white.png
YPG_Logotype_WHITE_CMJN_300_DPI.png

BEHIND THE TREE, HUMAN

DAPATKAN NOTIFIKASI ARTIKEL
DAN BERITA KAMI

Terimakasih! Nantikan berita dan artikel Puge Figo

SOSIAL MEDIA 

  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Whatsapp
ornamen dekoratif footer yayasan Puge Figo

© 2024, Communications Division. Puge Figo Foundation.

bottom of page